Tampilkan postingan dengan label Ilmu Sosial Dasar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ilmu Sosial Dasar. Tampilkan semua postingan

Kamis, 11 November 2010

Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Kemiskinan

Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Kemiskinan

            “ Ilmu pengetahuan” lazim digunakan  dalam pengertian sehari-hari, terdiri dari dua kata, “ ilmu “ dan  “ pengetahuan “, yang masing-masing punya identities sendiri-sendiri. Dikalangan ilmuwan ada keseragaman pendapat, bahwa ilmu itu selalu tersusun dari pengetahuan secara teratur, yang diperoleh dengan pangkal tumpuan (objek) tertentu dengan sistematis, metodis, rasional/logis, empiris, umum dan akumulatif. Pengertian pengetahuan sebagai istilah filsafat tidaklah sederhana karena bermacam-macam pandangan dan teori (epistemologi), diantaranya pandangan Aristoteles, bahwa pengetahuan merupakan pengetahuan yang dapat diinderai dan dapat merangsang budi. Dan oleh Bacon & David Home pengetahuan diartikan sebagai pengalaman indera dan batin. 
            Menurut Imanuel Kant pengehuan merupakan persatuan antara budi dan pengalaman. Dari berbagai macam pandangan tentang pengetahuan diperoleh  sumber-sumber pengetahuan berupa ide, kenyataan, kegiatan akal-budi,  pengalaman, sintesis budi, atau meragukan karena tak adanya sarana untuk mencapai pengetahuan yang pasti.

Untuk membuktikan pengetahuan itu benar, perlu berpangkal pada teori kebenaran pengetahuan :
  1. Pengetahuan dianggap benar apabila dalil (proposisi) itu mempunyai hubungan dengan dalil (proposisi) yang terdahulu
  2. Pengetahuan dianggap benar apabila ada kesesuaian dengan kenyataan
  3. Pengetahuan dianggap benar apabila mempunyai konsekwensi praktis dalam diri yang mempunyai pengeahuan itu.
           Ilmu pengetahuan pada dasarnya memiliki tiga komponen penyangga tubuh pengetahuan yang disusunnya yaitu ; ontologis, epistemologis, dan aksiologis. Epistemologis hanyalah merupakan cara bagaimana materi pengetahuan diperoleh dan disusun menjadi tubuh ilmu pengetahuan. Ontologis dapat diartikan hakekat apa yang dikaji oleh pengetahuan, sehingga jelas  ruang lingkup ujud yang menajdi objek penelaahannya. Atau dengan kata lain ontologism merupakan objek formal dari suatu pengetahuan. Komponen aksiologis adalah asas menggunakan ilmu pengetahuan atau fungsi dari ilmu pengetahuan.
            Pembentukan ilmu akan berhadapan dengan objek yang merupakan bahan dalam penelitian, meliputi objek material sebagai bahan yang menadi tujuan penelitian bulat dan utuh, serta objek formal, yaitu sudut pandangan yang mengarah kepada persoalan yang menjadi pusat perhatian. Langkah-langkah dalam memperoleh ilmu dan objek ilmu meliputi rangkaian kegiatan dan tindakan. Dimulai dengan pengamatan, yaitu suatu kegiatan yang diarahkan kepada fakta yang mendukung apa yang dipikirkan untuk sistemasi, kemudian menggolong-golongkan dan membuktikan dengan cara berpikir analitis, sistesis, induktif dan deduktif. Yang terakhir ialah pengujian kesimpulan dengan menghadapkan fakta-fakta sebagai upaya mencari berbagai hal yang merupakan pengingkaran.
            Untuk mencapai suatu pengetahuan yang ilmiah dan obyektif diperlukan sikap yang bersifat ilmiah, yang meliputi empat hal yaitu :
  1. Tidak ada perasaan yang bersifat pamrih sehingga menacapi pengetahuan ilmiah yang obeyktif
  2. Selektif, artinya mengadakan pemilihan terhadap problema yang dihadapi supaya didukung oleh fakta atau gejala, dan mengadakan pemilihan terhadap hipotesis yang ada
  3. Kepercayaan yang layak terhadap kenyataan yang tak dapat diubah maupun terhadap indera dam budi yang digunakan untuk mencapai ilmu
  4. Merasa pasti bahwa setiap  pendapat, teori maupun aksioma terdahulu telah mencapai kepastian, namun masih terbuka untuk dibuktikan kembali.
            Permasalahan ilmu pengetahuan meliputi arti sumber, kebenaran pengetahuan, serta sikap ilmuwan itu sendiri sebagai dasar untuk langkah selanjutnya.

Teknologi

            Dalam konsep yang pragmatis dengan kemungkinan berlaku secara akademis dapatlah dikatakan bahwa pengetahuan (body ofknowledge), dan teknologi sebagai suatu seni (state of arts ) yang mengandung pengetian berhubungan dengan proses produksi; menyangkut cara bagaimana berbagai sumber, tanah, modal, tenaga kerja dan ketrampilan dikombinasikan untuk merealisasi tujuan produksi. “secara konvensional mencakup penguasaan dunia fisik dan biologis, tetapi secara luas juga meliputi teknologi sosial, terutama teknoogi sosial pembangunan (the social technology of development) sehingga teknologi itu adalah merode sistematis untuk mencapai tujuan insani (Eugene Stanley, 1970).
           Teknologi memperlihatkan fenomenanya alam masyarakat sebagai hal impersonal dan memiliki otonomi mengubah setiap bidang kehidupan manusia menjadi lingkup teknis. Jacques Ellul dalam tulisannya berjudul “the technological society” (1964) tidak mengatakan teknologi tetapi teknik, meskipun artinya sama. Menurut Ellul istilah teknik digunakan tidak hanya untuk mesin, teknologi atau prosedur untuk memperoleh hasilnya, melainkan totalitas  metode yang dicapai secara rasional dan mempunyai efisiensi (untuk memberikan tingkat perkembangan) dalam setiap bidang aktivitas manusia. Jadi teknologi penurut Ellul adalah berbagai usaha, metode dan cara untuk memperoleh hasil yang distandarisasi dan diperhingkan sebelumnya.
Fenomena teknik paa masyarakat ikini, menurut Sastrapratedja (1980) memiliki ciri-ciri sebagia berikut :
  1. Rasionalistas, artinya tindakan spontan oleh teknik diubah menjadi tindakan yang direncanakan dengan perhitungan rasional
  2. Artifisialitas, artinya selalu membuat sesuatu yang buatan tidak alamiah
  3. Otomatisme, artinya dalam hal metode, organisasi dan rumusan dilaksanakan secara otomatis. Demikian juga dengan teknik mampu mengeliminasikan kegiatan non teknis  menjadi kegiatan teknis
  4. Teknik berkembang pada suatu kebudayaan
  5. Monisme, artinya semua teknik bersatu, saling berinteraksi dan saling bergantung
  6. Universalisme, artinya teknik melampaui batas-batas kebudayaan dan ediologi, bahkan dapat menguasai kebudayaan
  7. otonomi artinya teknik berkembang menurut prinsip-prinsip sendiri.
Teknologi yang berkembang denan pesat meliputi berbagai bidang kehidupan manusia. Luasnya bidang teknik digambarkan sebagaia berikut :
  1. Teknik meluputi bidang ekonomi, artinya teknik mampu menghasilkan barang-barang industri. Dengan teknik, mampu mengkonsentrasikan capital sehingga terjadi sentralisasi ekonomi
  2. Teknik meliputi bidang organisasional seperti administrasi, pemerintahan, manajemen, hukum dan militer
  3. Teknik meliputi bidang manusiawi. Teknik telah menguasai seluruh sector kehidupan manusia, manusia semakin harus beradaptasi dengan dunia teknik dan tidak ada lagi unsur pribadi manusia yang bebas dari pengaruh teknik.
            Alvin Tofler (1970) mengumpakana teknologi itu sebagai mesin yang besar atau sebuah akselarator (alat pemercepat) yang dahsyat, dan ilmu pengetahuan sebagai bahan bakarnya. Dengan meningkatnya ilmu pengetahuan secara kuantitatif dan kualtiatif, maka kiat meningkat pula proses akselerasi yagn ditimbulkan oleh mesinpengubah, lebih-lebih teknologi mampu menghasilkan teknologi yang lebih banyak dan lebih baik lagi.
            Ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan bagian-bagian yang dapat dibeda-bedakan, tetapi tidak dapat dipisah-pisahkan dari suatu sistem yang berinteraksi dengan sistem-sistem lain dalam kerangka nasional seperti kemiskinan.

Kemiskinan

            Kemiskinan lazimnya dilukiskan sebagai kurangnya pendapatan untuk memenuhi kebutuhan hidup yang pokok. Dikatakan berada di bawah garis kemiskinan  apabila pendapatan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup yang paling pokok seperti pangan, pakaian, tempat berteduh, dan lain-lain. Garis kemiskinan yang menentukan batas minimum pendapatan yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan pokok, bisa dipengaruhi oleh tiga hal :
  1. Persepsi manusia terhadap kebutuhan pokok yang diperlukan
  2. Posisi  manusia dalam lingkungan sekitar
  3. Kebutuhan objectif manusia untuk bisa hidup secara manusiawi
           Persepsi manusia terhadap kebutuhan pokok yang diperlukan dipengaruhi oleh tingkat pendidikan, adat istiadat, dan sistem nilai yang dimiliki. Dalamhal ini garis kemiskinan dapat tinggi atau rendah. Terhadap posisi manusia dalam lingkungan sosial, bukan ukuran kebutuhan pokok yang menentukan, melainkan bagaimana posisi pendapatannya ditengah-tengah masyarakat sekitarnya. Kebutuhan objektif manusia untuk bisa hidup secara manusiawi ditentukan oleh komposisi pangan apakah benilai gizi cukup dengan nilai protein dan kalori cukup sesuai dengan tingkat umur, jenis kelamin, sifat pekerjaan, keadaan iklim dan lingkungan yang dialaminya.
           Kesemuanya dapat tersimpul dalam barang dan jasa dan tertuangkan dalam nilai uang sebgai patokan bagi penetapan pendapatan minimal yang diperlukan, sehingga garis kemiskinan ditentukan oleh tingkat pendapatan minilam ( versi bank dunia, dikota 75 $ dan desa 50 $AS perjiwa setahun, 1973) ( berapa sekarang ? ).
Berdasarkan ukuran ini maka mereka yang hidup dibawah garis kemiskinan memiliki cirri-ciri sebagai berikut :
  1. Tidak memiliki factor-faktor produksi sendiri seperti tanah, modal, ketrampilan. Dll
  2. Tidak memiliki kemungkinan untuk memperoleh asset produksi dengan kekuatan sendiri, seperti untuk memperoleh tanah garapan ataua modal usaha
  3. Tingkat pendidikan mereka rendah, tidak sampai taman SD
  4. Kebanyakan tinggal di desa sebagai pekerja bebas
  5. Banyak yang hidup di kota berusia muda, dan tidak mempunyai ketrampilan.
Kemiskinan menurut orang lapangan (umum) dapat dikatagorikan kedalam tiga unsure :
  1. Kemiskinan yang disebabkan handicap badaniah ataupun mental seseorang
  2. Kemiskinan yang disebabkan oleh bencana alam
  3. Kemiskinan  buatan. Yang  relevan dalam hal ini adalah kemiskinan buatan, buatan manusia terhadap manusia pula yang disebut kemiskinan structural. Itulah kemiskinan yang timbul oleh dan dari struktur-struktur  buatan manusia, baik struktur ekonomi, politik, sosial maupun cultural. Selaindisebabkan oleh hal – hal tersebut, juga dimanfaatkan oleh sikap “penenangan” atau “nrimo”, memandang kemiskinan sebagai nasib, malahan sebagai takdir Tuhan. Kemiskinan menjadi suatu kebudayaan atau subkultur, yang mempunya struktur dan way of life yang telah turun temurun melalui jalur keluarga. Kemiskinan (yagn membudaya) itu disebabkan oleh dan selama proses perubahan sosial secara fundamental, seperti transisi dari feodalisme ke kapitalisme, perubahan teknologi yang cepat, kolonialisme, dsb.obatnya tidak lain adalah revolusi yang sama radikal dan meluasnya.
Sumber :  http://isramrasal.wordpress.com/2009/12/26/ilmu-pengetahuan-teknologi-dan-kemiskinan/

Sabtu, 06 November 2010

PENERBANGAN


PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Perkembangan dan peningkatan jasa pelayanan perusahaan penerbangan dari tahun ke tahun semakin menarik perhatian masyarakat. Hal ini dapat dilihat dari ketatnya persaingan kualitas pelayanan, harga, promosi diantara sekian banyaknya perusahaan penerbangan. Peranan pesawat terbang sebagai sarana transportasi menjadi semakin penting bagi dunia yang secara langsung mendukung pariwisata dan bisnis internasional. Mengingat persaingan harga saat ini menjadi perhatian masyarakat dalam memilih sarana angkutan udara. Dilihat dari segi ekonomi, masyarakat saat ini cenderung memilih tarif penerbangan yang murah, tetapi mendapatkan service yang baik.
Secara umum, industri penerbangan nasional khususnya yang ada di Gorontalo berkembang dengan cukup pesat, yang mana sudah terdapat beberapa rute penerbangan, jadwal penerbangan maupun keberadaan pesawat. Termasuk mengenai harga tiket penerbangan untuk berbagai rute domestik secara rata-rata turun hingga 35% dari harga sebelum deregulasi, hal ini Disebabkan Karena Adanya Persaingan dan Perang harga antara maskapai penerbangan dalam menggaet ketertarikan konsumen.Dalam kondisi persaingan yang ketat tersebut, hal utama yang harus diprioritaskan oleh perusahaan penerbangan adalah kepuasan pelanggan/penumpang agar dapat bertahan, bersaing dan menguasai pangsa pasar. Pimpinan perlu tahu apa saja yang dianggap penting oleh para pengguna jasa dan berusaha untuk memenuhi kebutuhan pelanggan. Itu sebabnya perlu dilakukan "importance and performance analysis"Kepuasan maupun ketidakpuasan pelanggan menjadi topic yang hangat dibicarakan pada tingkat internasional /global, nasional, industri dan perusahaan. Kepuasan pelanggan/penumpang ditentukan oleh kualitas barang dan jasa yang dikehendaki pelanggan sehingga jaminan kualitas menjadi prioritas utama bagi setiap perusahaan. Pada saat ini kepuasan pelanggan dijadikan sebagai tolok ukur keunggulan daya saing perusahaan, khususnya dalam industri penerbangan, mengingat banyaknya penerbangan baru dengan rute-rute yang potensial yang menjadikan segmen pasar semakin spesifik.
Pada dasarnya pengertian kepuasan/ketidakpuasan pelanggan merupakan perbedaan antara harapan dan kinerja yang dirasakan. Jadi, pengertian kepuasan pelanggan berarti bahwa kinerja suatu barang sekurang-kurangnya sama dengan yang diharapkan. Seperti seorang penumpang mengharapkan pesawat berangkat tepat waktu (on time), akan tetapi kenyataannya sering terlambat, sehingga mengecewakan/menimbulkan rasa ketidakpuasan. Kehilangan bagasi yang sering terjadi akibat dari kesalahan petugas check ini pada saat pelabelan atau salah pada saat loading ke pesawat. Kejadian ini akan membuat pengguna jasa atau penumpang sering kecewa dan akan menjadi alternatif penerbangan lain.
Dalam menentukan tingkat kepuasan pelanggan dimulai dari penentuan siapa yang menjadi pelanggan, kemudian dipantau dari segi tingkat kualitas pelayanan yang diinginkan dan pada akhirnya formulasi strategi. Disini dianalisis pula bagaimana posisi pesaing dan kemampuan kita. Artinya, apakah perusahaan sudah memperhatikan hal-hal yang berpengaruh terhadap kualitas pelayanan yang dianggap penting oleh pelanggan sehingga dapat memuaskan. Kalau kinerja (pelaksanaan) dinilai bagus/baik berarti dapat memuaskan. Pada hakikatnya setiap perusahaan mengenal 3 unsur keunggulan daya saing, yaitu:
1.Keunggulan sumber (keterampilan dan sumber daya serta dana)
2.Keunggulan posisional (nilai bagi pelanggan dan biaya yang lebih rendah).
3.Keunggulan kinerja (kepuasan dan kesetiaan pelanggan, pangsa pasar, serta kemampuan 
   berlaba).

Keunggulan kinerja diperoleh dari keunggulan posisional dan pada gilirannya keunggulan ini dapat dicapai karena keunggulan sumber. Adapun untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi kualitas pelayanan perusahaan penerbangan dapat ditinjau dari cara pelayanan di darat dan pelayanan didalam pesawat.Isu pelayanan penerbangan selama ini antara lain tampak dalam bentuk ketidaktepatan waktu pemberangkatan maupun kedatangan pesawat, penundaan jadwalpenerbangan, tidak tercatatnya nama dalam daftar penumpang. Sebagai contoh, seorang penumpang yang komplain sehubungan dengan status tiketnya yang telah siap namun pada saat pemberangkatan namanya tidak terdaftar sama sekali dan mendapatkan pelayanan yang kurang simpatik oleh staf  pada counter check in, sehingga penumpang tersebut terpaksa menginap semalam untuk menunda keberangkatannya pada keesokan harinya. Tentunya kejadian seperti ini sangat mengecewakan pelanggan.Berkaitan dengan masalah tersebut, maka penulis berencana mengadakan sebuah penelitian dan memformulasikannya dalam judul " Faktor - Faktor yang Mempengaruhi Kualitas Pelayanan pada PT Lion Air Lines Gorontalo" 

1.2 Identifikasi Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang yang diuraikan di atas, maka penulis merumuskan sejumlah pokok permasalahan dalam melakukan penelitian pada PT Lion Air Lines Cabang Gorontalo yakni sebagai berikut:.1.Faktor apa saja yang mempengaruhi kualitas pelayanan pada PT Lion Air Lines Cabang Gorontalo?2.Bagaimanakah pengaruh prosedur pelayanan penumpang PT Lion Air Lines Cabang Gorontalo?

1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian

1.3.1  Tujuan Penelitian
Adapun tujuan yang hendak diharapkan dalam penulisan ini adalah untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi kualitas pelayanan serta menganalisis dan memahami segala masalah yang ada pada PT Lion Air Lines Gorontalo, selain itu tujuan penulisan atau penyusunan skripsi ini adalah untuk mengetahui seberapa besar tingkat pelayanan PT. Lion Air kepada para konsumen sekaligus untuk memenuhi persyaratan dalam memperoleh gelar kesarjanaan.

1.3.2  Manfaat Penelitianan
 Manfaat Praktis TeoritisPenelitian ini diharapkan dapat menjadi satu kajian ilmiah yang menjadi referensi dalam dunia akademik, mengetahui persepsi masyarakat tentang kualitas pelayanan publik untuk mencapai efektivitas pelayanan yang prima pada perusahaan penerbangan.b.  Manfaat pada Dunia PraktisDidalam dunia praktis, penelitian ini diharapkan mampu memberikan informasi tentang pelayanan penerbangan yang dilakukan oleh PT Lion Airlines. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan bagi pengambil keputusan dan pihak manajemen perusahaan penerbangan untuk menetapkan kebijakan-kebijakan yang mengarah pada peningkatan kualitas pelayanan penerbangan.

KAJIAN TEORI

2.1  Tinjauan Teori dan Konsep Kunci
Uraian tinjauan teori dan konsep kunci ini akan mengetengahkan sejumlah konsep yang dipandang mempunyai keterkaitan dengan topik bahasan penelitian ini. Sesuai dengan pembahasan mengenai -faktor berpengaruh terhadap pelayanan pada PT Lion Airlines, maka untuk lebih memperjelas pembahasan ini diperlukan adanya landasan teori yang akan dijadikan dasar pemahaman.

2.2   Konsep Kualitas
Kata 'Kualitas' mengandung banyak pengertian. Tjiptono dan Anastasia Diana (Sutopo, 2000:4) memberikan pengertian kualitas yang diantaranya; (1).  Kesesuaian dengan persyaratan; (2).  Kecocokan dengan pemakaian; (3)  Perbaikan berkelanjutan; (4)  Bebas dari kerusakan/cacat; (5)  Melakukan segala sesuatusecara benar; (6)  Pemenuhan kebutuhan pelanggan sejak awal dan setiap saat; (7) Sesuatu yang bisa membahagiakan pelangganSelanjutnya Sutopo juga mengemukakan bahwa ciri-ciri kualitas adalah :
  1. Ketepatan waktu pelayanan, yang meliputi waktu tunggu dan waktu proses.
  2. Akurasi pelayanan, yang meliputi bebas dari kesalahan-kesalahan.
  3. Kesopanan dan keramahan dalam memberikan pelayanan.
  4. Kemudahan mendapatkan pelayanan, misalnya banyaknya petugas yang melayani dan banyaknya fasilitas pendukung seperti computer.
  5. Kenyamanan dalam memperoleh pelayanan, berkaitan dengan lokasi, ruang tempat pelayanan,tempat parkir, ketersediaan informasi dan lain-lain.
  6. Atribut pendukung pelayanan seperti ruang tunggu yang nyaman, kebersihan dan lain-lain.
Kualitas atau mutu pelayanan adalah kesesuaian antara harapan dan keinginan dengan kenyataan. Sejalan dengan itu, menurut Soedarsono dkk (2005:5) dimensi yang sangat melekat dengan mutu pelayanan meliputi:
  1. Tak nyata: penampilan fasilitas fisik, peralatan, tenaga kerja dan materi komunikasi.
  2. Daya uji: kemampuan menunjukan sebagai jasa yang dapat diandalkan dan akurat seperti dijanjikan.
  3. Daya tanggap. kemauan membantu pelanggan dan menyediakan layanan segera.
  4. Keterampilan: memiliki keahlian dan pengetahuan yang dibutuhkan untuk memberikan pelayanan.
  5. Keramahan: sopan santun, penghargaan, perhatian dan persahabatan.
  6. Kredibilitas: ketulusan, kepercayaan, kejujuran dari pemberi layanan.
  7. Keamanan: kebebasan dari bahaya, resiko atau keragu-raguan.
  8. Akses: kemudahan untuk didekati dan dihubungi.
  9. Komunikasi: memberikan pengetahuan yang dapat dipahami oleh pelanggan dan mendengarkan mereka.
  10. Pengertian: berusaha mengenal pelanggan dan kebutuhannya.Pengertian dari konsep kualitas adalah lebih luas daripada sekedar aktivitas pemeriksaan.
Pengertian modern dari konsep kualitas adalah membangun sistem kualitas modern. Pada dasarnya, sistem kualitas modern dapat dicirikan oleh lima karakteristik sebagai berikut :
  1. Sistem kualitas modern berorientasi kepada pelanggan.
  2. Sistem kualitas modern dicirikan adanya partisipasi aktif yang dipimpin oleh manajemen publipuncak (top management).
  3. Sistem kualitas modern dicirikan oleh adanya pemahaman dari setiap orang terhadap tanggung jawab spesifik untuk kualitas.
  4. Sistem kualitas modern dicirikan oleh adanya aktivitas yang berorientasi kepada tindakan pencegahan kerusakan.
  5. Sistem kualitas modern dicirikan oleh adanya suatu filosofi yang menganggap bahwa kualitas merupakan 'jalan hidup' (way of life). (Gasperz 1997:95).
Selanjutnya Edward Deming (Hardjosoedarmo, 1999 : 52) memberikan karakteristik kualitas sebagai berikut:
  1. Performance : karakteristik kerja pokok.
  2. Time lines : terjadi pada saat waktu yang wajar.
  3. Reability:  panjangnya waktu kerja dan kerusakan.
  4. Durability: panjang waktu sebelum perlu pergantian atau reparasi.
  5. Aestheistis : karakteristik yang berkaitan dengan panca indera.
  6. Personal interface: hubungan antar manusia.
  7. Perception: ukuran atau kesimpulan tindak yang langsung mengenai dimensi atau reputasi.
  8. Ease of use : bebas dari kesukaran penggunaan.
  9. Feature: ciri-ciri khusus.
  10. Conformance to spesification: derajat dimana suatu desain produk dan karakteristik kerja produk sesuai dengan standar yang ditetapkan.
  11. Consistence: sepanjang waktu, sama dan tetap konstan.
  12. Uniformity: seragam, tanpa variasi.
  13. Serviceability: penyelesaian persoalan dan penanganan keluhan.
  14. Accuracy: derajat benarnya suatu kuantitas atau pernyataan.
Adapun mengenai kualitas jasa layanan Philip Kotler (Supranto, 1994:231) memberikan alat ukur lain :
  1. Keandalan (reability): kemampuan untuk melaksanakan jasa yang dijanjikan dengan tepat dan   terpercaya.
  2. Koresponsifan (responsiveness): kemauan untuk membantu pelanggan dan memberikan jasa dengan   cepat atau ketanggapan.
  3. Keyakinan (confidence): pengetahuan dan kesopanan karyawan serta kemampuan mereka untuk menimbulkan kepercayaan dan keyakinan.
  4. Empati (empathy): syarat untuk peduli, memberi perhatian pribadi bagi pelanggan.
  5. Berwujud (tangible): penampilan fasilitas fisik, peralatan, personel dan media komunikasi.
Zeithml dkk (Tjiptono, 1974:14) mengidentifikasi empat dimensi pokok kualitas jasa yaitu :
  1. Bukti langsung (tangible) meliputi fasilitas fisik, perlengkapan, pegawai dan sarana komunikasi.
  2. Keandalan (reability), kemampuan memberikan pelayanan yang dijanjikan dengan segera, akurat dan memuaskan.
  3. Daya tanggap (responsiveness) yakni keinginan para staf untuk membenatu para pelanggan dan memberikan pelayanan yang tanggap.
  4. Jaminan (asurance), mencakup pengetahuan, kemampuan kesopanan dan sifat dapat dipercaya yang dimiliki para staf, bebas dari bahaya, resiko atau keragu-raguanIndikator-indikator petunjuk pelayanan yang berkualitas di atas adalah ditujukan untuk memberikan kepuasan terhadap pelanggan.
2.3 Konsep Pelayanan   
Pelayanan merupakan salah satu faktor kunci keberhasilan bagi organisasi yang bergerak dibidang jasa. Untuk memenangkan persaingan PT Lion Airlines dalam menyelenggarakan jasa pelayanan penerbangan harus memberikan pelayanan yang terbaik untuk mampu bersaing dengan perusahaan-perusahaan penyelenggara jasa penerbangan lainnya.Adapun definisi jasa menurut Philip Kotler (1994:464) adalah sebagai berikut "Service is any act or performance that one party can offer to another that is essentially intangible and does not result in the ownership of anithyng...".
Jasa adalah kegiatan atau tindakan yang dapat menawarkan kepada orang lain sesuatu yang tak terukur yang esensial dan tidak mengakibatkan kepemilikan apapun.American Marketing Association (1981:441) mendefinisikan jasa sebagai berikut "Service are those separatelly identifiable esential intangible activities which provide want satisfaction and that is not necessarily tied to the sales of a product or another service. To produce a service may or may not require the use of tangible goods. However when such us required, there is no transfer of tittle (permanent ownership) to these tangible goods....".
 Jasa/layanan adalah aktivitas penting tak terukur bisa diidentifikasi itu yang mana menyediakan kepuasan keinginan yang tidak perlu diikat kepada penjualan suatu produk jasa yang lain. Untuk menghasilkan suatu jasa/layanan boleh atau tidak boleh memerlukan penggunaan (dari;ttg) barang-barang terukur. Bagaimanapun ketika seperti itu kita memerlukannya, tidak ada perpindahan kepemilikan permanen ke barang-barang terukur ini. Philip Kotler (1994:465) membagi macam - macam jasa sebagai berikut :
  1. Barang terwujud murni.
          Terdiri dari barang berwujud seperti sabun, pasta gigi, tidak ada jasa yang menyertai produk tersebut. 
 
  1. Barang berwujud yang disertai jasa.
Terdiri dari barang berwujud yang disertai dengan satu atau lebih jasa untuk mempertinggi daya tarik pelanggan. Contohnya: produsen mobil yang juga memberikan kualitas dan pelayanan kepada pelanggannya, seperti reparasi, pelayanan purna jual dan garansi.

  1. Campuran.
Terdiri dari barang dan jasa dengan proporsi yang sama.   Contohnya: restoran yang harus didukung oleh makanan dan pelayanannya.

  1. Jasa utama yang disertai barang dan jasa tambahan.
Terdiri dari jasa utama dengan jasa tambahan dan atau barang pelengkap. Contohnya: penumpang pesawat terbang membeli jasa transportasi. Mereka sampai ditempat tujuan tanpa sesuatu hal berwujud yang memperlihatkan pengeluaran mereka. Namun perjalanan tersebut meliputi barang-barang berwujud seperti makanan dan minuman, potongan tiket dan majalah penerbangan. Jasa tersebut membutuhkan barang padat modal berupa pesawat terbang agar terealisasi tetapi komponen utamanya adalah jasa.

  1. Jasa murni.
contohnya menjaga bayi, psikoterapi.

Secara umum pelayanan bermakna  sebagai cara melayani, membantu, menyiapkan, mengurus, menyelesaikan keperluan kebutuhan seseorang atau kelompok. Aspek pelayanan ada dua unsur yang tidak bisa dipisahkan yaitu antara pelayanan dan yang dilayani.
Pelayanan timbul karena adanya budaya kepentingan di dalam masyarakat. Pelayanan bukanlah sasaran atau kegiatan melainkan merupakan suatu proses untuk mencapai sasaran tertentu yang telah ditetapkan (Batinggi, 1998:3). Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1989:505) dinyatakan "Pelayanan adalah perihal atau cara melayani, meladeni dan kemudahan yang diberikan sehubungan dengan jual beli barang dan jasa".
Pengertian ini menunjukan bahwa orientasi pelayanan secara implisit dalam bentuk adanya suatu kepentingan baik barang maupun jasa.Jasa atau pelayanan merupakan suatu kinerja (performance), tidak berwujud dan lebih dapat dirasakan daripada dimiliki. Dalam strategi pemasaran, definisi jasa harus diamati dengan baik, karena pengertiannya sangat berbeda dengan produk-produk berupa barang. Kondisi ini dan cepat lambatnya pertumbuhan jasa akan sangat bergantung pada penilaian pelanggan terhadap kinerja yang ditampilkan oleh produsen.
Pendapat Moenir (2000:16-17) mengemukakan bahwa "Pelayanan adalah suatu proses pemenuhan kebutuhan melalui aktivitas orang lain yang langsung". Dalam buku yang sama dikemukakan sebagai berikut: "Pelayanan pada hakikatnya adalah serangkaian kegiatan karena itu ia merupakan proses. Sebagai proses pelayanan berlangsung secara rutin dan berkesinambungan meliputi seluruh kehidupan orang dalam masyarakat, kebutuhan manusia akan layanan dapat digambarkan melalui teori Life Cycle Theory of Leadership (LCTL)"Memahami hal pelayanan sebagai suatu cara untuk memenuhi kebutuhan seseorang dan sekelompok orang atau suatu badan yang tergabung dalam kepentingan bersama atau kepentingan umum sehingga arti pelayanan dan pelayanan umum pada dasarnya tidak jauh berbeda, sehingga keduanya berorientasi pada pemenuhan kebutuhan orang lain (individu atau masyarakat)Pengertian ini memberikan suatu makna bahwa pelayanan secara teknis dapat dilakukan oleh individu maupun sekelompok orang.
Ahmad Batinggi (1998:4) mengemukakan bahwa sistem pelayanan umum dipengaruhi oleh faktor-faktor sebagai berikut:
  1. mekanisme dan prosedur.
  2. perilaku aparat.
  3. segi masyarakat.
  4. peraturan perundang-undangan.
  5. sarana dan prasarana.
  6. segi dana.
Selanjutnya Batinggi (1994:4) mengemukakan bahwa : 
a.       Sebelum segala sesuatu dimulai maka proses dan prosedur harus ditetapkan lebih awal. 
b.      Proses dan prosedur itu harus diketahui oleh semua pihak yang terlibat proses dan prosedur itu
      tidak boleh membingungkan dan mengundang interpretasi ganda.
c.    Kualitas muncul dari orang-orang yang bekerja dalam sistem, artinya orang-orang bekerja
     mengikuti suatu system satu sama lainya saling terkait seperti rantai. Apabila sistem itu baik maka 
     kecil kemungkinan kesalahan akan terjadi.
d.    Peninjauan kualitas oleh para eksekutif perlu dilakukan secara periodik dalam arti perlu diadakan
     penyempurnaan dari prosedur jika dipandang perlu memperhatikan selera pihak yang dilayani.
e.    Kualitas pelayanan dapat dicapai apabila para pemimpin organisasi menciptakan suatu iklim 
     budaya organisasi yang memusatkan perhatian secara konsisten pada peningkatan kualitas dan 
     kemudian menyempurnakan secara berkala. Semua staf hendaknya siap dan ingin pula berubah 
     apabila keadaan berubah.
f.  Kualitas berarti memenuhi keinginan, kebutuhan dan selera konsumeng.Kualitas menuntut 
   kerjasama yang erat. Setiap orang dalam organisasi hendaknya memandang orang lain, patnernya, 
   yang dapat dilihat dan dihargai sebagai bagian dari penentu berhasilnya ia melaksanakan suatu 
   kewajiban.

Dalam keputusan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara nomor : 81 tahun 1993 Pedoman Tata Laksana Pelayanan Umum dinyatakan sebagai berikut : “Pelayanan masyarakat adalah segala bentuk kegiatan pelayanan yang diberikan oleh instansi pemerintah di pusat, didaerah dan lingkungan badan usaha milik Negara / Daerah dalam bentuk barang dan jasa, baik dalam rangka pelaksanaan ketentuan peraturan perundang-undangan”.Osborne dan Gaebler (1992:IX) menyebutkan asas-asas manajemen pelayanan, yaitu "catalytic goverenment: steering rather then rowing (mengemudikan ketimbang mendayung) dan  community Owned Government : empowering rather than serving (berilah wewenang kapada masyarakat ketimbang perintah yang melayani".Keputusan Menteri Pendatagunaan Aparatur Negara Nomor 81 Tahun 1993.
Kriteria pelayanan masyrakat yang baik harus  memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
a.    KesederhanaanProsedur/tata cara pelyanan diselengarakan secara mudah, cepat, tidak terbelit 
     belit, mudah dipahami dan mudah dilaksanakanoleh masyrakat yang meminta pelayanan. 
b.   Kejelasan dan Kepastian mengenai:
      1.Prosedur tata cara pelayanan.
      2.Persyaratan pelayanan baik teknik maupun administrastif.
      3.Unit kerja atau pejabat yang berwenang dan bertujuan dalam memberikan pelayanan.
      4.Rincian biaya / tarif pelayanan dan tata cara pembayaran.
      5.Jadwal waktu penyelesaian pelayanan.
  c.  Keamanan Proses serta hasil pelayanan dapat memberikan keamanan dan dapat memberikan      
      kepastian hukum bagi masyarakat.
  d.  KeterbukaanProsedur/tata cara, persyaratan, satuan, kerja/pejabat penanggung jawab, pemberi 
      pelayanan wajib diinformasikan secara terbuka.
 e.  Efisien
1.    Persyaratan pelayanan hanya dibatasi pada hal-hal yang berkaitan langsung dengan pencapaian sasaran pelayanan dengan tetap memperhatikan keterpaduan antara persyaratan dengan produk pelayanan yang diberikan.
2.       Dicegah adanya pengulungan pemenuhan kelengkapan persyaratan, dalam proses pelayananya masyrakat yang bersangkutan mempersyaratkan adanya kelengkapan persyaratan dari satuan/instansi pemerintah lain yang terkait.
       f. Ekonomis   
          Pengenaan biaya pelayanan harus ditetapkan secara wajar dengan memperhatikan :
  1. Nilai barang dan jasa pelayanan masyarakat dan tidak menuntut biaya terlalu tinggi diluar kewajaran.2.Kondisi dan kemampuan masyarakat untuk membayar.3.Ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. g.   Keadilan yang merataKriteria ini mengandung arti cakupan/jangkuan pelayanan umum harus diusahakan seluas mungkin dengan distribusi yang merata dan diperlakukan secara adil bagi seluruh lapisan masyrakat.h.   Ketetapan waktu
  2. Kriteria ini mengandung arti pelaksanaan pelayanan kepada masyarakat dapat diselesaikan dalam kurun waktu yang telah ditentukan.2.Indikator-indikator penunjuk pelayanan yang berkualitas diatas adalah ditujukan untuk memberikan kepuasan kepada pelanggan.2.4  Kepuasan PelangganKepuasan pelanggan adalah tingkatan perasaan seseorang setelah membandingkan kinerja/hasil yang dirasakan dengan harapannya.tingkat kepuasan merupakan fungsi dari perbedaan harapan dengan kinerja yang dirasakan. Apabila kinerja berada dibawah harapan, maka pelanggan akan kecewa. sedangkan bila kinerja sesuai harapan, pelanggan akan sangat puas. harapan pelanggan dapat dibentuk oleh pengalaman masa lampau pelanggan, komentar dari mulut kemulut serta informasi yang diberikan oleh media. Untuk itu penyelengaraan layanan harus memberikan pelayanan yang berkualitas.Istilah kualitas atau mutu secara umum sangat sering didengar dalam pembicaraan sehari-hari, namun secara opresional pengertian kualitas masih banyak diperdebatkan. secara umum dikatakan bahwa kualitas adalah karakteristik produk atau jasa yang ditentukan oleh pemakai dan diperoleh melalui pengukuran prose serta melalui perbaikan yang berkelanjutan (Hardjosoedarmo, 1999 : 49).Osborne dan plastrick (2000 : ) mengemukakan lima strategi (5 C) reformase pelayananb yaitu Core Strategy, Consequences Strategy, Cosrumer Strategy, Control Strategy  dan  strtegy. Selanjutnya Osborne dan Plastrick (2000 : ) menyatakan ada tiga pendekatan dasar yang bisa membuat organisasi bertanggung jawab pada pelayananya, yaitu :1.Memberikan pilihan kepada pelanggan2.Mengkombinasikan strategi pelanggan dengan konsekuensi 3.Pemastian mutu pelanggan, menetapkan standara pelayanan dan menciptakan imbalan bagi yang memerlukan pekerjaan dengan baik dalam memenuhi standar tersebut dan menghukum mereka yang tidak bisa memenuhi standar.Untuk menciptakan kepuasan pelanggan, perusahaan harus menciptakan dan mengelolah suatu sistem untuk memperoleh pelanggan yang lebih banyak dan kemampuan untuk mempertahankan pelangganya. Kiat pemasaran yang dapat digunakan perusahan untuk mengembangkan ikatan setia pelanggan yang lebih kuat menurut Berry dan Parasuraman (1995 : 45) ada tiga pendekatan penciptaan nilai pelanggan yaitu:1.Pendekatan 1 adalah memberikan keuntungan finansial bagi pelanggan. misalnya perusahaan penerbangan mengadakan program untuk pelanggannya yang sering terbang dengan berbagai fasilitas.2.Pendekatan II adalah meningkatkan ikatan sosial antara perusahaan dengan cara mempelajari kebutuhan masing - masing pelangan serta meberikan pelayanan yang lebih baik pribadi sifatnya.3.Pendekatan III adalah meningkatkan ikatan struktural.Pemasaran yang didasarkan pada hubungan dengan pelanggan dan mencakup pemberian keuntungan finansial serta sosial disamping iktan struktural dengan pelanggan. Perusahaan harus memutuskan seberapa banyak pemasaran berdasarkan hubungan harus dilakukan pada masing-masing segmen pasar pada pelanggan dari tingkat pemasaran biasa, bertanggung jawab, proaktif sampai kemitraan penuh.2.5 Definisi OperasionalYang dimaksud dengan faktor yang mempengaruhi kualitas pelayanan adalah pelayanan terhadap faktor tangibel (berwujud) dan Intangible (tidak berwujud) dalam kualitas pelayanan penerbangan pada PT. Lion Airlines.Faktor tangibel adalah penampilan fasilitas fisik, peralatan, personel dan media komunikasi, bentuk pelayanan penerbangan dalam hal ini berupa proses ticketing dalam wujud tiket termasuk harga khusus yang ditawarkan dalam rangka promosi dan fasilitas penerbangan termasuk kondisi pesawat yang menggunakan type boeing, dan MD 90. Fasilitas dalam pesawat seperti inflight shop dan penayangan video yang dapat memberikan informasi penting bagi penerbangan. sedangkan faktor intangible adalah suatu jasa yang mempunyai sifat yang tidak berwujud, Bentuk pelayanan penerbangan dalam hal ini seperti kepercayaan, keresponsif, keramahan, dan kepastian.

METODE PENELITIAN

3.1           Lokasi Penelitian
                Penelitian dilakukan di Bandara Djalaludin Gorontalo dengan mengambil sampel pelanggan Lion Air, dilakukan secara non probability sampling dengan teknik sampling acak sederhana tanpa memperhatikan strata yang ada dalam anggota populasi seluruh penumpang.

3.2           Jenis Penelitian       
              Dalam penelitian yang berjudul faktor yang mempengaruhi kualitas pelayanan pada PT. Lion Air lines , penelitian menggunakan metode penelitian survei. Penggunaan metode penelitian survei  dalam penelitian ini selain didasarkan pada pertimbangan bahwa metode tersebut sangat relevan dengan variabel yang akan diteliti, juga sangat membantu guna mendapatkan data dan informasi yang obyektif dan valid dalam memahami, memecahkan dan mengantisipasi masalah-masalah yang berkaitan dengan obyek penelitian.Penelitian survei ini dilakukan dengan menggunakan pengolahan fakta, data dan informasi melalui kuesioner, observasi lapangan serta wawancara. Pengolahan penelitian dilakukan dengan menggunakan instrumen penelitian berupa kuesioner, pedoman wawancara dan pedoman observasi. Metode ini dirasakan cocok agar secara rasional dan obyektif dapat dipertanggung jawabkan untuk dijadikan bahan demi efektivasi pelayanan yang lebih terakomodir dalam rangka pencapaian tujuan yang lebih optimal.

3.4.  Populasi dan Sampel

3.4.1.  Populasi 
           Bertolak dari latar belakang permasalahan di atas maka yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah seluruh populasi pada perusahaan  penerbangan PT. Lion Air perwakilan Gorontalo berjumlah 50 orang  untuk rute penerbangan Gorontalo – Makasar dan Rute penerbangan  Gorontalo – Jakarta.

3.4.2.  Sampel
           Pengambilan sampel dalam penelitian ini dilakukan secara non probability sampling dengan teknik sampling acak sederhana (simple random sampling) Sebanyak 50 orang Koresponden. Cara pengambilan dari beberapa anggota populasi dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam anggota populasi seluruh penumpang maskapai penerbangan Lion Air Perwakilan Gorontalo.Untuk menambah keakuratan data, maka disertakan informan yaitu:1.District Manager Lion Air perwakilan Gorontalo2.Sales Manager Lion Air perwakilan Gorontalo3.Kepala Bandar Udara  Djalaluddin Gorontalo.

3.5  Teknik Pengumpulan Data

3.5.1  Metode Pengumpulan Data.   
          Wawancara Penggunaan metode ini dalam penelitian cenderung dapat memperoleh data yang memiliki tingkat realibilitas dan validitas baik dari responden maupun informan. ObservasiPengumpulan data dalam kegiatan penelitian yang dilakukan dengan metode observasi bukanlah pengamatan yang sekedar melihat-lihat langsung diperhatikan dicermati jika perlu ditanya segala sesuatunya. KuesionerPengumpulan data dengan metode ini dilakukan untuk mendapatkan data yang obyektif, dan akurat dan responden yang berkaitan langsung dengan permasalahan yang diteliti.

3.5.2  Instrumen Penelitiana.  Pedoman Wawancara
Agar pelaksanaan wawancara lebih terarah kepada efisien dan efektivitas pengumpulan data maka dalam penelitian ini digunakan jenis wawancara berpedoman dimana arah pembicaraan dituntun oleh sejumlah pertanyaan yang telah disusun terlebih dahulu. Pedoman Observasi Pengumpulan data melalui observasi dilakukan dengan cara observasiterlibat dimana peneliti sebagai pengamat melibatkan diri pada obyek dan peristiwa yang diteliti dengan menggunakan pedoman observasi. Kuesioner Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan daftar pertanyaan tertutup dimana pertanyaan yang diajukan telah dipersiapkan terlebih dahulu dan penyusunan jawaban berpatokan pada skala yang dikehendaki dalam penelitian.

3.6  Teknik Pengolahan dan Analisis Data
        Dalam melakukan penelitian mengenai analisis faktor berpengaruh terhadap pelayanan pada PT Lion Air ini penulis menggunakan analisis statistik korelasi product moment. Selain itu pula juga menggunakan pengukuran variabel yang dilakukan dengan cara menggunakan sejumlah daftar pertanyaan secara terstruktur melalui kuesioner kepada responden terpilih. Variabel yang teridentifikasi adalah persepsi konsumen terhadap kualitas pelayanan dan kepuasan konsumen. Pengukuran menggunakan skala Likert 5 poin dengan batasan kriteria,  sangat tidak puas,  tidak puas, cukup puas,  puas, dan sangat puas. Item kebijakan harga diadopsi dari Tjiptono (1997). Item kepuasan konsumen diadopsi dari Tesis Natalisa (1999). Responden penelitian sebanyak 50 orang konsumen yang sebelumnya telah menggunakan maskapai penerbangan PT Lion Air dalam kurun yang tidak ditentukan sebelum penelitian ini dilakukan. Kuesioner disebarkan secara purposif kepada penumpang yang sedang berada di ruang tunggu bandara Djaluddin-Gorontalo. Untuk menguji hipotesis penelitian digunakan analisis faktor dan uji regresi. Metode analisis yang digunakan yaitu sebagai berikut :
1.  Analisis kualitatif yaitu mengklasifikasi, menganalisis dan mempresentasi data-data yang ditemukan dilapangan secara deskriptif.Metode ini dapat dilakukan dengan tujuan untuk menemukan pengaruh (efect) pada variabel terikat (dependent) atau mencari sebab (causes) yang ada pada variabel bebas. 
2. Analisis kuantitatif yaitu pendekatan sains untuk di pergunakan dalam pengambilan keputusan. Pendekatan ini menggunakan data, misalnya barang mentah yang dipergunakan dalam suatu pabrik, data tersebut diolah untuk dipergunakan dalam pengambilan keputusan.
       
       Analisis Regresi SederhanaYang digunakan untuk mencari pengaruh antara kualitas pelayanan terhadap kepuasan dan kenyamanan pada PT. Lion Air Lines dengan formulasi sebagaimana yang terdapat dalam Suprapto (2001) yaitu sebagai berikut :   Dimana :Y = kualitas layananX1 = TangibleX2 = Ingtangiblea = Konstanta (intercept)b = Koefisien Regresi X Terhadap Y. Analisis korelasiUmar (2003, hal. 47) mengatakan bahwa analisis korelasi berguna untuk menentukan suatu besaran yang menyatakan bagaimana kuat hubungan suatu Variabel dengan variabel lain. Jadi, tidak mempersoalkan apakah suatu variabel tertentu bergantung pada variabel lain. Simbol dari besaran korelasi adalah r yang disebut koefisien korelasi sedangkan simbol parameternya r (di baca rho).Nilai koefisien korelasi r berkisar antar -1 sampai +1, yang kriteria pemanfaatannya dijelaskan sebagai berikut:-  Jika, nilai r >0, artinya terjadi hubungan yang linier positif, yaitu makin besar nilai variabel X (independen) , makin besar pula nilai variabel Y (dependen) atau makin kecil nilai variabel X (independen), maka makin kecil pula nilai variabel Y (dependen)-  Jika nilai r <0, artinya telah terjadi hubungan yang linier negative, yaitu makin kecil nilai variabel X (independen), maka makin besar nilai variabel Y (dependen) atau makin besar variabel X (independen) maka makin kecil pula nilai variabel Y (dependen).- Jika, niali r = 0, tidak ada hubungan sama sekali antara variabel X (independen) dengan variabel Y (dependen).- Jika, niklai r = 1 atau r = -1, telah terjadi hubungan linier sempurna, berupa garis lurus, sedangka nilai r yang makin mengarah ke angka 0 maka garis makin tidak lurus.Rumus :n XY – X YΣ Σ Σr =√ [ X2 –(XY)2] [n Y2 – ( Y)2]Σ Σ ΣBAB IVHASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1   Deskripsi Obyek Penelitian
         Lion Tour merupakan cikal bakal lahirnya maskapai penerbangan domestik PT. Lion Air Lines Nama itu diambil dari simbol bintang Leo yamg merupakan simbol Astrologi kelahiran Rusdi Kirana, pendiri dan pemilik saham perusahaan (CEO Lion Air) pada tanggal 17 Agustus dalam bentuk logo kepala singa atau lion. Singa merupakan lambang semangat dan keberanian dalam kehidupan. Nama Lion di gunakan pada bisnis trevelnya di bidang penerbangan sehingga menjadi Lion Tour.  Dan ketika memulai menggarap bisnis penerbangan Maskapai, lambang yang digunakan tetap sama, hanya saja gambar kepala singa ditambah dengan sayap dan matahari. Sayap sebagai jenis usaha yakni penerbangan dan matahari itu merupakan kebutuhan bagi semua orang.Pada 20 Juni 2001 adalah hari yang bersejarah bagi dunia penerbangan Indonesia. Hari itu sebuah pesawat Boeing 737-200 take off dari Cengkareng ke Pontianak. Rusdi Kirana, Kusnan Kirana, Achmad Hasan, Capt. David Lumbun melepas penerbangan perdana dengan suka cita dan do'a. Penerbangan itulah yang kelak merubah penerbangan komersial berjadwal di Indonesia kemudian hari.Tahun 2004, Lion Air membuat sejarah baru dengan memesan 60 pesawat B737-900 ER yang merupakan jenis terbaru dari Boeing, sekaligus menjadi pengguna pertama pesawat type tersebut didunia. Penandatanganan perjanjian pembelian dilakukan diUSA dilakukan oleh Rusdi Kirana ( CEO Lion Air ) disaksikan oleh Presiden Indonesia Bapak H. Susilo Bambang Yudhoyono. Lion Air mencatat sejarah baru di pabrik Boeing sebagai Maskapai dan Negara pertama yang melakukan pembelian terbesar. Dan tahun 2005, Ceo Lion Air kembali menambah pesawat Boeing  jenis B737- 900 ER sebanyak 100 unit. Ketambahan armada ini terjadi karena jumlah penguna Makapai Lion Air terus meningkat sehingga perlu inovasi  peremajaan pesawat atau mengantisipasi kelayakan pesawat berdasarkan undang –undang yang berlaku,perbaikan pesawat dan lainnya. Adapun tujuan penambahan armada dilakukan guna memenuhi kualitas pelayanan yang baik untuk terus mempertahankan dan meningkatkan jumlah penumpang /penguna jasa maskapai Lion Air. Serta pada 6 Juni 2008 beberapa waktu lalu, Lion Air secara resmi membuka penerbangan dari Singapura langsung ke Denpasar, Bali, Indonesia. dan 30 Juni 2008 ini tepat sewindu Lion Air mengabdi untuk dunia penerbangan Indonesia. Semoga dengan semakin bertambah usianya akan semakin membuat Lion Air menjadi Maskapai penerbangan yang profesional dan tetap membuat orang bisa menikmati penerbangan yang safety dan terjangkau. Dan kondisi ini terus berlanjut hingga sampai dengan sekarang. 

4.2   Analisis Data

4.2.1  Faktor Tangiblea. 
          Ticketing Pada dasarnya merupakan penjabaran dari oprasional tujuan dasar atau sasaran awal yang telah ditetapkan dalam penerbangan. Sebagi wujud adanya produsen dan konsumen. Tiketing  umumnya  bebentuk Pelayanan mulai  dari harga  yang di tawarakan relatif lebih murah atau lebih ekonomis. Adanya iklan informasi berkaitan jadwal keberangkatan. Pesawat. di media cetak dan elektronik / promosi lainya seperti spanduk , pamflet  tersebar di tempat – tempat  travel yang ada di wilayah maupun pada kantor distrik Gorontalo.  Tahapan proses lanjutan adalah penjemputan atau pelayanan di rungan tunggu dengan memberikan kenyamanan kepastian keberangkatan atau penundaan . Lebih prespek Ticketing  diidentifikasi dan di ekspresikan dalam ukuran laba dalam satuan  uang dengan pelayan awal yang baik. Label / Paking bagasibagasi selalu menjadi komplen terpanjang akibat kehilangan atau tertukar. Kondisi ini terjadi pada rute transit. Untuk mengantisipasi hal ini perlu adanya paking bagasi / pelabelan serta pangaturan bagasi dalam pesawat. Paking untuk rute transit sebaiknya dengan penglabelan warna yang berbeda untuk memudahkan pembongkaran bagasi tempat lending awal rute transit. Pengaturan dalam kabin bagasi , untuk rute terjauh bagasi di letakkan pada kabin paling dalam dan untuk rute transit paling pendek diletakan dekat pintu bagasi atau di muat pada room bagai luar. Untuk warna pelabelan  rute Gorontalo – Makassar, bagasi di beri label warna kuning. Dan untuk Rute Gorontalo- jakarta , Bagasi di beri label berwarna coklat  jika terdapat kehilangan atau tertukar bagasi  PT. Lion Air memberi kesempatan untuk mengomplen ditempat yang di sediakan perusahaan. Perusahaan akan menindak lanjuti dengan permasalahan tersebut dengan mengirim berita kehilangan melalui faxmile dan situs internet melalui email ke distrik tempat lending pesawat rute transit yang semuanya online. Olehnya kantor distrik Lion Air hampir di setiap daerah bertempat di sekitar bandar Udara yang di milki oleh daerah tersebut.c. Jenis PesawatPesawat sebagai bentuk fisik utama dalam penebangan  harus dalam kondisi safety dari kerusakan yang terkecil mulai  dari mesin, termasuk desain eksterioer dan interiornya guna  menciptakan pelayananan secara menyeluruh atau dengan menciptakan berbagai inovasi mengunakan jenis pesawat terbaru.. Kondisi pesawat pada dasarnnya  merupakan proses penentuan jumlah kepuasan penumpang.  Pesawat yang di gunakan oleh Maskapai Lion Air untuk wilayah Gorontalo hanya terdapat  dua jenis yakni jenis Boing 737 -400 ER dengan kapasitas penumpang dan jenis MD 90 dengan kapasitas penumpang setiap hari Dellyd. Sajian Sajian aneka program informasi lebih diprioritaskan dengan manampilakan penayangan slate maskapai Lion Air dengan berbagai  keunggulannya , panduan informasi Pariwisata Nasional dan Internasional . Dan untuk sajian  makanan / minuman sebelum dampak krisis ekonomi dalam skala Nasional memang diadakan guna mendukung pelayanan dalam pesawat selama penerbangan. . Namun paska kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM)  Avture, pada bulan Maret 2007  manageman Lion Air lebih memilih kebijakan untuk memangkas biaya sajian makanan dan minuman ketimbang menaikkan harga tiket pesawat, dengan komitmen senantiasa mempertahankan kualitas pelayanan yang ada.e. Faktor Kebersihan Kebersihan sangat mempengaruhi minat konsumen, bahkan beberapa diantara konsumen ada yang memilih mementingkan kebersihan dibandingkan dengan keekonomisan harga, penumpang yang merasa tidak nyaman karena faktor kebersihan akan cenderung menghabiskan waktunya dengan keadaan yang tidak santai hingga ia lebih fokus pada saat tiba dengan suasana hati yang buruk. dibandingkan ia harus santai dalam keberangkatannyaf. Penampilan KaryawanPenampilan adalah hal yang penting dalam pelayanan, baik itu dari segi postur tubuh sampai pakaian yang dikenakkan pramugari itu sendiri, penampilan yang menarik dari pramugari bisa menyenangkan konsumen yang dilayaninya, kemudian dari segi jenis bentuk pakaian dan penampilan karyawan dapat memberitahukan identitas karyawan kepada konsumen sehingga mempermudah komunikasi awal antara pelayan dan konsumennya.g. Jaminan Keselamatan Keselamatan merupakan barometer utama dari setiap maskapai pesawat terbang dalam menggaet para konsumen untuk menggunakan jasa mereka dan menjadi tolak ukur paling utama bagi konsumen sebelum memutuskan jasa pelayanan maskapai apa yang akan digunakan, pemilihan pilot yang berpengalaman,jam terbang yang tinggi, kru dan teknisi yang handal, perlengkapan keselamatan yang harus disediakan maskapai untuk mengantisipasi dari hal dan kejadian yang tidak di inginkan dalam proses penerbangan berlangsung, sampai pada asuransi yang akan di tanggung oleh penyedia jasa maskapai penerbangan yang dapat membuat konsumen merasakan ada jaminan dalam penerbangan yang di sadiakan maskapai itu sendiri

4.2.2.   Ingtangiblea.
           Keramahan Sikap dan sifat utama  dalam Markting maupun kerjasama antar sesama yang saling membutuhkan berkaitan dengan informasi terwujud dalam suasana yang santun Keramahan lebih prespek dalam menciptakan hubungan komunikasi yang baik sehingga terjadi interaksi yang  handal dalam menciptakan kinerja yang profesional dengan sistem miror / cermin., artinnya setiap hal atau ekspresi yang dilakukan oleh komunikator akan di serap oleh komunikan sehingga konsumen merasa dilayani dengan baik. keramahan di maksud adalah pelayanan dengan komunikasi. Dengan teknik komunikasi memperhatikan intonasi nada bicara, penggunaan kalimat, serta cara mengekspresikan wajah yang bersahabat kepada para penumpangb.  KeamanananKeamanan merupakan bentuk perlindungan  dari  sesuatu yang menjadikan rasa kehawatiran, keraguan  dan ketakutan lebih diminimalisir atau tidak terjadi sama sekali. Keamanan  pada PT. Lion Air lebih diciptakan pada  harga tiket dengan tarif nominal yang sama berlaku di trevel – trevel maupun di  kantor distrik marketing. Keamanan juga belaku pada waktu penjemputan, waktu keberangkatan pesawat, alasan penundaan keberangakatan  dan pengaturan bagasi.  Jaminan keamanan juga bahkan dalam pernerbangan dengan kondisi layak pesawat terbang  dengan dukungan personal yang profesional dibidangnya Menciptakan keamanan (Safety) adalah hal yang paling krusial. kelemahan pada keamanan atau tidak terlayani  konsumen dengan baik akan menimbulkan image buruk dan berdampak pada  Lemahnya sektor “teke and give “dari managemen maskapai dalam meningkatkan Privasi yang layak bagi pengguna jasa. Keresponsif Tingkat kepuasan  terhadap harapan dan hasil kerja yang di rasakan oleh seseorang secara sadar akan memberikan timbal balik rasa untuk tetap konsisten mengunakan jasa yang di Tawarkan. Sikap ini akan berkesinambungan sepanjang kualitas pelayanan terus mengalami peningkatan seiring dengan kebutuhan manusia moderan dalam pengunaan efisensi waktu. Korenponsif  menjadi  menjadi talok ukur dalam menentukan baik tidaknya pelayanan. Semakin banyak krenposif  memberi nilai plus, maka makin baik kulitas pelayanan yang di berikan. Bahkan makin bayak kereponsif yang meberikan nilai minus, maka semikin turun tingkat  kualitas pelayanan. Keresponsif minus bisa dalam bentuk komplen kehilangan bagasi, keterlambatan delay dan lainya. d. KepastianPenciptaan keamanan , propesional kerja dan dukungan tangible akan merubah presepsi, image yang tidak menyenangkan ke arah yang lebih menyenangkan. Kepastian adalah hasil dari tingkat pembanding antara harapan dengan hasil yang di terima. Kepastian merupakan pencitraan awal terhadap kepercayaan / privasi yang secara tidak langsudependen (Y) maupun Variabel independen (X1, X2, ) dengan model regresi linng mengarah kepada  pembuktiaan  hasil kerja yang memuaskan . Kepastian memberikan kepercayaan kepada kerenponsif untuk  memberi nilai plus dan bukan sebaliknnya, bedasarkan Hasil survai marketing keberhasilan seorang penjual barang maupun jasa di ukur dari jumlah orang yang memanfaatkan karana kebutuhan dan kebercayaaan.Penganalisan Variabel ear berganda yang dibantu dengan aplikasi komputer SPSS (lampiran coeficients), diperoleh  hasil penafsiran  terhadap   persamaan regresi linear berganda adalah sebagai berikut :Y = 0,234+0,620 X1+ 0,237 X2Nilai F ( F value) = 122,470 dengan nilai P (Prob > F) atau signifikasi = 0,000 ª (lampiran Anova). Koefisien determinasi yang disimbolkan dengan R² (R Square) = 0,839 dan koefisien R = 0,916Sedangkan secara persial dapat dilihat dari tabel coeficients bahwa pengaruh variabel independent terhadap variabel dependen masing-masing adalah tangible = 0,902 dan intangible = 0,870 terhadap kualitas layanan dengan nilai pengujian student (t) masing-masing secara berurutan adalah tanginble = 4, 895 dan intangible =2,762 dengan tingkat signifikan masing-masing tangible = 0,000 dan intangible 0,008 maka tingkat signifikannya tangible yaitu 0,000 

4.3      Pembahasan 
          Berdasarkan penulisan yang dilakukan melalui tabulasi jawaban kusioner dan penyusunan distribusi frekuensi dan analisa regresi linier berganda, maka ada beberapa hal yang bisa dibahas sehubungan dengan masalah variabel analisa diangkat, yaitu :
  1. Baik variabel dependen (kualitas layanan) maupun variabel independen (Faktor-Faktor yang mempengaruhi Kualitas Pelayanan dalam hal ini Tanggible dan Intangible).
  2. Hasil print out SPSS ( Statistikal Package for the Social Sciens ) yang terlihat dalam lampiran penulisan ini maka bisa di buat suatu rekapan Dengan hasil sebagai berikut: CorrelationsPengaruh variabel independent terhadap variabel dependen masing-masing adalah independent terhadap variabel dependen masing-masing adalah tangible = 0,902 dan intangible = 0,870 terhadap kualitas layanan. Arah hubungan positif menunjukan bahwa semakin baik atau semakin meningkat faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas layanan (tangible dan intangible) maka meningkat pula respon pelanggan untuk mencapai tingkat kepuasan.Tingkat signifikan koefisien korelasi satu sisi diukur dari probalitas menghasilkan angka 0,000, karena probalitasnya lebih kecil dari 0,05, maka korelasi antara variabel X1(tangible) dan X2 (intangible) terhadap variable Y (kualitas layanan) signifikan pada  0,05αModel SummaryKoefisien R = 0,916 menunjukan secara stimulasi atau secara bersama-sama bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi Kualitas Pelayanan (Tanggibles dan intangible) sangat berpengaruh dan positif terhadap kualitas pelayanan karena nilai koefisiennya mendekati 1.R Square atau Determinasi 0,839 menunjukan kontribusi variabel X1 (tangible)   dan X2 (intangible) terhadap kualitas pelayanan adalah sebesar 83,9 %.Standar Error Of Estimate adalah 0.498 lebih kecil dari standar devisiasi of mean kualitas layanan (1.216), artinya koefisien regresi lebih baik jadikan sebagai prediktor  kualitas pelayanan dibanding menggunakan metode mean atau rata-rata.Anova dan CoeficientDari uji Anova diperoleh F hitung 122,470  dengan tingkat signifikan 0,000 karena probalitasnya lebih kecil dari 0,05 maka model regresi signifikan pada  0,05α untuk memprediksi kualitas pelayanan  karena variabel bebas signifikan mempengaruhi variabel tak bebas.Persamaan regresi yang diperoleh adalah :Y = 0,234+0,620 X1+ 0,237 X2 dimana a = 0.234 artinya apabila X1 (tangible) dan X2 (intangible) tidak ada atau = 0, maka kualitas pelayanan akan konstan pada tingkatan 0,234 satuan dan b1 = 0,620 artinya setiap adanya peningkatan variabel tangible sebanyak 1 satuan akan meningkatkan faktor-faktor yang mempengaruhi  sebanyak 0.620 satuan dari semula, b2 = 0.237 artinya setiap adanya peningkatan variabel intengible sebanyak 1 satuan akan meningkatkan kualitas pelayanan sebanyak  0.146 satuan dari semula.Koefiesien regresi persial dimana nilai t (uji student) untuk variabel tangible dan integible  masing-masing adalah tanginble = 4, 895 dan intangible =2,762tangible dengan tingkat signifikan masing-masing tangible = 0,000 dan intangible 0,008 maka tingkat signifikannya tangible yaitu 0,000 Dalam hal ini bahwa variabel tangible yang lebih dominan mempengaruhi variabel kualitas layanan pada PT. Lion Air lines.

PENUTUP

5.1     Kesimpulan
          Berdasarkan pada uraian Bab sebelumnya , maka penulis dapat menarik kesimpulan sebagai berikut :
  1. Lion Air sudah mampu membangun Kepercayaan positif dari Konsumennya hal ini terlihat bahwa konsumen sangat kritis terhadap pelayanan yang diberikan Lion Air dari faktor ingtangible dan tangiblenya, sehingga Pelanggan merasa puas secara emosional. walaupun hal ini tidak berpengaruh secara langsung terhadap kepuasan pelanggan. Tingkat kepuasan pelanggan terhadap kualitas kinerja atribut utama pelayanan Lion Air sudah cukup baik, walaupun terkadang terjadi masalah keterlambatan penerbangan karena kesalahan non teknis diakibatkan cuaca yang dapat dimaklumi sehingga pihak Lion Air menunda keberangkatan yang beresiko tinggi, kemudian pelayanan item makanan yang telah ditiadakan selama penerbangan berlangsung, Lion Air belum mampu memberikan pelayanan ini untuk penumpang, karena telah dipangkas anggarannya untuk menekan harga tiket penjualan dan ini dapat menjadi masukkan kembali bagi Lion Air yang dimana Maskapai ini di tuntut mampu bersaing dalam hal pelayanan terbaik bagi konsumennya.
  2. Berdasarkan hasil penelitian yang dibantu  dengan  program   komputer  SPSSmenunjukkan bahwa Correlations, Summary serta Anova dan Coeficient secara bersama-sama memiliki hubungan dan pengaruh yang positif terhadap kepuasan pelanggan.
5.2     Saran
          Berdasarkan beberapa kesimpulan yang dikemukakan di atas, maka penulis dapat memberikan beberapa saran sebagai berikut :1.Untuk meningkatkan kepuasan konsumen pengguna jasa transportasi udara, PT Lion Air harus lebih meningkatkan kesesuaian harga dengan layanan yang diberikan kepada konsumen. Peningkatan kualitas pelayanan tersebut meliputi: sajian minuman atau makanan kepada penumpang, waktu keberangkatan (on time performance), profesionalisme awak kabin dan karyawan dalam melayani penumpang, kondisi pesawat keseluruhan (interior, eksterior, mesin, dan atribut pesawat lainnya) yang kesemuanya mempunyai dampak langsung terhadap keamanan maupun keselamatan maskapai penerbangan domestik itu2.Perlu adanya sosialisasi dan pemahaman serta pendekatan secara persuasif kepada masyarakat dalam mempromosikan maskapai penerbangan. Berdasarkan data yang ada bahwa masih terdapat masyarakat yang masih bersifat apatis terhadap keberadaan maskapai penerbangan dan lebih memilih yang harganya ekonomis.DAFTAR PUSTAKAAhmad Batinggi. 1998. Statistik Nonparametris, Alfabeta, Jogjakarta. Berry dan Parasuraman. 1995. Industri Penerbangan Domestik 2004. Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, Departemen Perhubungan. Hardjosoedarmo, 1999. Perbaikan Kualitas Layanan Sebagai Upaya Peningkatan Kepuasan Pelanggan Maskapai Domestik: Sudut Pandang Pelanggan. Dirjen Dikti, Proyek HEDS, Jakarta. Kamus Besar Bahasa Indonesia (1989:505)Komarudin. 1994. Pengaruh Kualitas Pelayanan Terhadap Kepuasan Penumpang Maskapai Penerbangan Domestik. Thesis, UNSRI, Palembang. Moenir. 2000. Persaingan Maskapai Penerbangan Domestik dan Perkembangannya. 
           Kelola, 16: 50-61. Nur, Indiantoro dan Bambang Supomo (2002) Metodologi Penelitian Bisnis Untuk Akuntansi Dan Manajemen, Edisi Pertama, Cetakan Kedua, Penerbit BPFE, Jogjakarta.Peraturan Pemerintah No. 40 Tahun 1995, Petikan Draft Hasil Konvensi Chicago 1944 dan Konvensi Warsawa 1929. (http://www.google.com/konvensi_chichago20%konvensi_warsawa)Salinan Keputusan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara nomor : 81 tahun 1993 Pedoman Tata Laksana Pelayanan Umum Sutopo: 2000. Kualitas Layanan Jasa Penerbangan Domestik (Studi Kasus Maskapai Penerbangan Merpati Nusantara. Lemlit Universitas Sriwijaya, Palembang. The Liang Gie. 1986. Industri Penerbangan dan Keselamatan Penumpang. Tempo Interaktif, 8 September 2005. Tjiptono, 1974 dan Supranto, 1994. Jatuh Bangun Industri Penerbangan Nasional. Tempo Interaktif, 23 Mei 2004. ……………….. 2006. Buku Pegangan Lion Air Company Profile, PT. Lion Mentari Airlines. UU No. 15 Tahun 1992. tentang Penerbangan (sebagai pengganti UU No. 83/1958) Ordonansi Pengangkutan Udara No. 100. Tahun 1939,

Minggu, 24 Oktober 2010

Kekerasan Remaja Dalam Berpacaran

Kekerasan dalam Pacaran (KDP)



Kekerasan dalam Pacaran

Pacaran adalah hubungan antara pria dan wanita yang diwarnai keintiman dimana satu sama lain terlibat dalam perasaan cinta dan saling mengakui pasangannya sebagai pacar. Melalui berpacaran seseorang akan mempelajari mengenai perasaan emosional tentang kehangatan, kedekatan dan berbagi dalam hubungan dengan orang lain. Salah satu tugas perkembangan dewasa muda adalah berkisar pada pembinaan hubungan intim dengan orang lain.

Namun pada kenyataannya, seringkali terjadi bahwa pacaran yang dilakukan remaja dapat menjurus kepada hal-hal yang negatif, misalnya pacaran diiringi dengan perilaku seksual pranikah, kekerasan dalam berpacaran, bahkan tidak jarang terjadi kasus-kasus pembunuhan, perkosaan hingga maraknya kasus-kasus hubungan seksual yang direkam melalui handphone. Salah satu fenomena yang saat ini semakin banyak muncul pada hubungan berpacaran adalah kekerasan dalam pacaran (KDP).

Data kasus kekerasan yang ditangani oleh Jaringan Relawan Independen (JaRI) periode April 2002-Juni 2007, yakni, dari 263 kasus kekerasan yang masuk, ada 92% korban perempuan (sekitar 242 orang). Dimana sepertiganya merupakan kekerasan dalam pacaran (KDP). Sementara itu, kasus kekerasan dalam pacaran (KDP) dan perkosaan pun menjadi kasus dominan yang ditangani Rifka Annisa Women`s Crisis Center asal Yogyakarta, setelah kekerasan terhadap istri. Selama 14 tahun terakhir, dari 3.627 kasus kekerasan terhadap perempuan yang terungkap, sekitar 26 % di antaranya adalah kekerasan dalam pacaran (KDP) dan perkosaan. Rifka Annisa (2002) mencatat bahwa kekerasan terhadap perempuan yang terjadi antara bulan Januari-Juli 2002 tercatat sebanyak 248 kasus. Dimana 60 kasus merupakan kekerasan pada masa pacaran (KDP) dan perkosaan 30 kasus.
 
Fenomena kekerasan dalam pacaran (KDP) sebenarnya seperti gunung es. Sebab, angka-angka tersebut hanya berdasar pada jumlah kasus yang dilaporkan, padahal dalam kenyataannya, tidaklah mudah bagi korban kekerasan melaporkan kasus yang dialaminya.

Kekerasan dalam Pacaran (KDP)

Banyak orang yang peduli tentang kekerasan yang terjadi di dalam rumah tangga (Domestic Violence), namun masih sedikit yang peduli pada kekerasan yang terjadi berpacaran (Kekerasan Dalam Pacaran/KDP) atau Dating Violence). Banyak yang beranggapan bahwa dalam berpacaran tidaklah mungkin terjadi kekerasan, karena pada umumnya masa berpacaran adalah masa yang penuh dengan hal-hal yang indah, di mana setiap hari diwarnai oleh manisnya tingkah laku dan kata-kata yang dilakukan dan diucapkan sang pacar.
 
Kekerasan dalam Pacaran (KDP) adalah perilaku atau tindakan seseorang dapat disebut sebagai tindak kekerasan dalam percintaan atau pacaran apabila salah satu pihak merasa terpaksa, tersinggung dan disakiti dengan apa yang telah dilakukan oleh pasangannya pada hubungan pacaran. Suatu tindakan dikatakan kekerasan apabila tindakan tersebut sampai melukai seseorang baik secara fisik maupun psikologis, bila yang melukai adalah pacar maka ini bisa digolongkan tindak kekerasan dalam pacaran (KDP).

Sebenarnya kekerasan ini tidak hanya dialami oleh perempuan atau remaja putri saja, remaja putra pun ada yang mengalami kekerasan yang dilakukan oleh pacarnya. Tetapi perempuan lebih banyak menjadi korban dibandingkan laki-laki karena pada dasarnya kekerasan ini terjadi karena adanya ketimpangan kekuasaan antara laki-laki dan perempuan yang dianut oleh masyarakat luas. Ketidakadilan dalam hal jender selama ini telah terpatri dalam kehidupan sehari-hari, bahwa seorang perempuan biasa dianggap sebagai makhluk yang lemah, penurut, pasif, mengutamakan kepentingan laki-laki dan lain sebagainya, sehingga dirasa “pantas” menerima perlakuan yang tidak wajar atau semena-mena.

Payung hukum terhadap terjadinya tindak kekerasan terhadap perempuan, sebetulnya sudah cukup terakomodasi melalui UU No. 23 tahun 2004 tentang KDRT. Namun untuk kekerasan dalam pacaran (KDP), belum ada payung hukum khusus, dan masih menggunakan KUHP sebab dianggap kasus kriminal biasa. Kekerasan dalam pacaran (KDP) bisa masuk dalam KDRT, karena kekerasan yang terjadi dalam relasi domestik, antara laki-laki dan perempuan yang memiliki hubungan khusus.

Hal yang khas yang sering muncul dalam kasus kasus kekerasan dalam pacaran adalah bahwa korban biasanya memang cenderung lemah, kurang percaya diri, dan sangat mencintai pasangannya. Apalagi karena sang pacar, setelah melakukan kekerasan (menampar, memukul, nonjok, dll) biasanya setelah itu menunjukkan sikap menyesal, minta maaf, dan berjanji tidak akan mengulangi tindakan kekerasan lagi, dan bersikap manis kepada pasangannya. Pada dasarnya, hubungan pacaran adalah sarana melatih keahlian individu dalam kepekaan, empati, kemampuan untuk mengkomunikasikan emosi dan menyelesaikan konflik serta kemampuan untuk mempertahankan komitmen. Jika individu mampu mengkomunikasikan emosi dan menyelesaikan konflik dengan baik niscaya kekerasan dalam pacaran (KDP) tidak akan terjadi. Berkaitan dengan hal tersebut, penulis menduga bahwa salah satu penyebab terjadi kekerasan dalam pacaran (KDP) adalah rendahnya tingkat asertivitas individu. Rendahnya asertivitas tersebut tampak ketika individu cenderung menerima segala bentuk perlakuan oleh pasangannya, meskipun sebetulnya individu merasa tersiksa. Asertif berfungsi sebagai mengkomunikasikan emosi dan menyelesaikan konflik dalam berpacaran.

Sumber : http://duniapsikologi.dagdigdug.com/2010/07/07/kekerasan-dalam-pacaran-kdp/

Agama dan Masyarakat

AGAMA DAN MASYARAKAT


Masyarakat adalah suatu sistem sosial yang menghasilkan kebudayaan (Soerjono Soekanto, 1983). Sedangkan agama menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sistem atau prinsip kepercayaan kepada Tuhan, atau juga disebut dengan nama Dewa atau nama lainnya dengan ajaran kebaktian dan kewajiban-kewajiban yang berkaitan dengan kepercayaan tersebut. Sedangkan Agama di Indonesia memegang peranan penting dalam kehidupan masyarakat. Hal ini dinyatakan dalam ideologi bangsa Indonesia, Pancasila: “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Sejumlah agama di Indonesia berpengaruh secara kolektif terhadap politik, ekonomi dan budaya. Di tahun 2000, kira-kira 86,1% dari 240.271.522 penduduk Indonesia adalah pemeluk Islam, 5,7% Protestan, 3% Katolik, 1,8% Hindu, dan 3,4% kepercayaan lainnya.

Dalam UUD 1945 dinyatakan bahwa “tiap-tiap penduduk diberikan kebebasan untuk memilih dan mempraktikkan kepercayaannya” dan “menjamin semuanya akan kebebasan untuk menyembah, menurut agama atau kepercayaannya”. Pemerintah, bagaimanapun, secara resmi hanya mengakui enam agama, yakni Islam, Protestan, Katolik, Hindu, Buddha dan Konghucu.
 
Dengan banyaknya agama maupun aliran kepercayaan yang ada di Indonesia, konflik antar agama sering kali tidak terelakkan. Lebih dari itu, kepemimpinan politis Indonesia memainkan peranan penting dalam hubungan antar kelompok maupun golongan. Program transmigrasi secara tidak langsung telah menyebabkan sejumlah konflik di wilayah timur Indonesia.

Berdasar sejarah, kaum pendatang telah menjadi pendorong utama keanekaragaman agama dan kultur di dalam negeri dengan pendatang dari India, Tiongkok, Portugal, Arab, dan Belanda. Bagaimanapun, hal ini sudah berubah sejak beberapa perubahan telah dibuat untuk menyesuaikan kultur di Indonesia.

Berdasarkan Penjelasan Atas Penetapan Presiden No 1 Tahun 1965 Tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama pasal 1, “Agama-agama yang dipeluk oleh penduduk di Indonesia ialah Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan Khong Hu Cu (Confusius)”.
  • Islam : Indonesia merupakan negara dengan penduduk Muslim terbanyak di dunia, dengan 88% dari jumlah penduduk adalah penganut ajaran Islam. Mayoritas Muslim dapat dijumpai di wilayah barat Indonesia seperti di Jawa dan Sumatera. Masuknya agama islam ke Indonesia melalui perdagangan.
  • Hindu : Kebudayaan dan agama Hindu tiba di Indonesia pada abad pertama Masehi, bersamaan waktunya dengan kedatangan agama Buddha, yang kemudian menghasilkan sejumlah kerajaan Hindu-Buddha seperti Kutai, Mataram dan Majapahit.
  • Budha : Buddha merupakan agama tertua kedua di Indonesia, tiba pada sekitar abad keenam masehi. Sejarah Buddha di Indonesia berhubungan erat dengan sejarah Hindu.
  • Kristen Katolik : Agama Katolik untuk pertama kalinya masuk ke Indonesia pada bagian pertama abad ketujuh di Sumatera Utara. Dan pada abad ke-14 dan ke-15 telah ada umat Katolik di Sumatera Selatan. Kristen Katolik tiba di Indonesia saat kedatangan bangsa Portugis, yang kemudian diikuti bangsa Spanyol yang berdagang rempah-rempah.
  • Kristen Protestan : Kristen Protestan berkembang di Indonesia selama masa kolonial Belanda (VOC), pada sekitar abad ke-16. Kebijakan VOC yang mengutuk paham Katolik dengan sukses berhasil meningkatkan jumlah penganut paham Protestan di Indonesia. Agama ini berkembang dengan sangat pesat di abad ke-20, yang ditandai oleh kedatangan para misionaris dari Eopa ke beberapa wilayah di Indonesia, seperti di wilayah barat Papua dan lebih sedikit di kepulauan Sunda.
  • Konghucu : Agama Konghucu berasal dari Cina daratan dan yang dibawa oleh para pedagang Tionghoa dan imigran. Diperkirakan pada abad ketiga Masehi, orang Tionghoa tiba di kepulauan Nusantara. Berbeda dengan agama yang lain, Konghucu lebih menitik beratkan pada kepercayaan dan praktik yang individual.
A. Fungsi-Fungsi Agama
  Tentang Agama

Agama bukanlah suatu entitas independen yang berdiri sendiri. Agama terdiri dari berbagai dimensi yang merupakan satu kesatuan. Masing-masingnya tidak dapat berdiri tanpa yang lain. seorang ilmuwan barat menguraikan agama ke dalam lima dimensi komitmen. Seseorang kemudian dapat diklasifikasikan menjadi seorang penganut agama tertentu dengan adanya perilaku dan keyakinan yang merupakan wujud komitmennya. Ketidakutuhan seseorang dalam menjalankan lima dimensi komitmen ini menjadikannya religiusitasnya tidak dapat diakui secara utuh. Kelimanya terdiri dari perbuatan, perkataan, keyakinan, dan sikap yang melambangkan (lambang=simbol) kepatuhan (=komitmen) pada ajaran agama. Agama mengajarkan tentang apa yang benar dan yang salah, serta apa yang baik dan yang buruk.

Agama berasal dari Supra Ultimate Being, bukan dari kebudayaan yang diciptakan oleh seorang atau sejumlah orang. Agama yang benar tidak dirumuskan oleh manusia. Manusia hanya dapat merumuskan kebajikan atau kebijakan, bukan kebenaran. Kebenaran hanyalah berasal dari yang benar yang mengetahui segala sesuatu yang tercipta, yaitu Sang Pencipta itu sendiri. Dan apa yang ada dalam agama selalu berujung pada tujuan yang ideal. Ajaran agama berhulu pada kebenaran dan bermuara pada keselamatan. Ajaran yang ada dalam agama memuat berbagai hal yang harus dilakukan oleh manusia dan tentang hal-hal yang harus dihindarkan. Kepatuhan pada ajaran agama ini akan menghasilkan kondisi ideal.

Mengapa ada yang Takut pada Agama?

Mereka yang sekuler berusaha untuk memisahkan agama dari kehidupan sehari-hari. Mereka yang marxis sama sekali melarang agama. Mengapa mereka melakukan hal-hal tersebut? Kemungkinan besarnya adalah karena kebanyakan dari mereka sama sekali kehilangan petunjuk tentang tuntunan apa yang datang dari Tuhan. Entah mereka dibutakan oleh minimnya informasi yang mereka dapatkan, atau mereka memang menutup diri dari segala hal yang berhubungan dengan Tuhan.

Alasan yang seringkali mereka kemukakan adalah agama memicu perbedaan. Perbedaan tersebut menimbulkan konflik. Mereka memiliki orientasi yang terlalu besar pada pemenuhan kebutuhan untuk bersenang-senang, sehingga mereka tidak mau mematuhi ajaran agama yang melarang mereka melakukan hal yang menurutnya menghalangi kesenangan mereka, dan mereka merasionalisasikan perbuatan irasional mereka itu dengan justifikasi sosial-intelektual. Mereka menganggap segi intelektual ataupun sosial memiliki nilai keberhargaan yang lebih. Akibatnya, mereka menutup indera penangkap informasi yang mereka miliki dan hanya mengandalkan intelektualitas yang serba terbatas.

Mereka memahami dunia dalam batas rasio saja. Logika yang mereka miliki begitu terbatasnya, hingga abstraksi realita yang bersifat supra-rasional tidak mereka akui. Dan hasilnya, mereka terpenjara dalam realitas yang serba empiri. Semua harus terukur dan terhitung. Walaupun mereka sampai sekarang masih belum memahami banyaknya fungsi alam yang bekerja dalam mekanisme supra rasional, keterbatasan kerangka berpikir yang mereka miliki menegasikan semua hal yang tidak dapat ditangkap secara inderawi.

Padahal, pembatasan diri dalam realita yang hanya bersifat empiri hanya akan membatasi potensi manusia itu sendiri. Dan hal ini menegasikan tujuan hidup yang selama ini diagungkan para penganut realita rasio-saja, yaitu aktualisasi diri dan segala potensinya.

Agama, dengan sandaran yang kuat pada realitas supra rasional, membebaskan manusia untuk mengambil segala hal yang terbaik yang dapat dihasilkannya dalam hidup. Semua-apakah hal itu bersifat empiri-terukur, maupun yang belum dapat diukur. Empirisme bukanlah suatu hal yang ditolak agama. Agama yang benar, yang bersifat universal, mencakup segi intelektual yang luas, yang diantaranya adalah empirisme. Agama tidak mereduksi intelektualitas manusia dengan membatasi kuantitas maupun kualitas suatu idea. Agama yang benar, memberi petunjuk pada manusia tentang bagaimana potensi manusia dapat dikembangkan dengan sebesar-besarnya. Dan sejarah telah membuktikan hal tersebut.

Kesalahan yang dibuat para penilai agama-lah yang kemudian menyebabkan realita ajaran ideal ini menjadi terlihat buruk. Beberapa peristiwa sejarah yang menonjol mereka identikan sebagai kesalahan karena agama. Karena keyakinan pada ajaran agama. Padahal, kerusakan yang ditimbulkan adalah justru karena jauhnya orang dari ajaran agama. Kerusakan itu timbul saat agama-yang mengajarkan kemuliaan- disalahgunakan oleh manusia pelaksananya untuk mencapai tujuan yang terlepas dari ajaran agama itu sendiri, terlepas dari pelaksanaan keseluruhan dimensinya.

B. Pelembagaan Agama


Sebenarnya apa yang dimaksud dengan agama? Kami mengurapamakan sebagai sebuah telepon. Jika manusia adalah suatu pesawat telepon, maka agama adalah media perantara seperti kabel telepon untuk dapat menghubungkan pesawat telepon kita dengan Telkom atau dalam hal ini Tuhan. Lembaga agama adalah suatu organisasi, yang disahkan oleh pemerintah dan berjalan menurut keyakinan yang dianut oleh masing-masing agama. Penduduk Indonesia pada umumnya telah menjadi penganut formal salah satu dari lima agama resmi yang diakui pemerintah. Lembaga-lembaga keagamaan patut bersyukur atas kenyataan itu. Namun nampaknya belum bisa berbangga. Perpindahan penganut agama suku ke salah satu agama resmi itu banyak yang tidak murni.

Sejarah mencatat bahwa tidak jarang terjadi peralihan sebab terpaksa. Pemaksaan terjadi melalui “perselingkuhan” antara lembaga agama dengan lembaga kekuasaan. Keduanya mempunyai kepentingan. Pemerintah butuh ketentraman sedangkan lembaga agama membutuhkan penganut atau pengikut. Kerjasama (atau lebih tepat disebut saling memanfaatkan) itu terjadi sejak dahulu kala. Para penyiar agama sering membonceng pada suatu kekuasaan (kebetulan menjadi penganut agama tersebut) yang mengadakan invansi ke daerah lain. Penduduk daerah atau negara yang baru ditaklukkan itu dipaksa (suka atau tidak suka) menjadi penganut agama penguasa baru.

Kasus-kasus itu tidak hanya terjadi di Indonesia atau Asia dan Afrika pada umumnya tetapi juga terjadi di Eropa pada saat agama monoteis mulai diperkenalkan. Di Indonesia “tradisi” saling memanfaatkan berlanjut pada zaman orde Baru.Pemerintah orde baru tidak mengenal penganut di luar lima agama resmi. Inilah pemaksaan tahap kedua. Penganut di luar lima agama resmi, termasuk penganut agama suku, terpaksa memilih salah satu dari lima agama resmi versi pemerintah. Namun ternyata masalah belum selesai. Kenyataannya banyak orang yang menjadi penganut suatu agama tetapi hanya sebagai formalitas belaka. Dampak keadaan demikian terhadap kehidupan keberagaan di Indonesia sangat besar. Para penganut yang formalitas itu, dalam kehidupan kesehariannya lebih banyak mempraktekkan ajaran agam suku, yang dianut sebelumnya, daripada agama barunya. Pra rohaniwan agama monoteis, umumnya mempunyai sikap bersebrangan dengan prak keagamaan demikian. Lagi pula pengangut agama suku umumnya telah dicap sebagai kekafiran. Berbagai cara telah dilakukan supaya praktek agama suku ditinggalkan, misalnya pemberlakukan siasat/disiplin gerejawi. Namun nampaknya tidak terlalu efektif. Upacara-upacara yang bernuansa agama suku bukannya semakin berkurang tetapi kelihatannya semakin marak di mana-mana terutama di desadesa.

Demi pariwisata yang mendatangkan banyak uang bagi para pelaku pariwisata, maka upacarav-upacara adat yang notabene adalah upacara agama suku mulai dihidupkan di daerah-daerah. Upacara-upacara agama sukuyang selama ini ditekan dan dimarjinalisasikan tumbuh sangat subur bagaikan tumbuhan yang mendapat siraman air dan pupuk yang segar. Anehnya sebab bukan hanya orang yang masih tinggal di kampung yang menyambut angin segar itu dengan antusias tetapi ternyata orang yang lama tinggal di kotapun menyambutnya dengan semangat membara. Bahkan di kota-kotapun sering ditemukan praktek hidup yang sebenarnya berakar dalam agama suku. Misalnya pemilihan hari-hari tertentu yang diklaim sebagai hari baik untuk melaksanakan suatu upacara. Hal ini semakin menarik sebab mereka itu pada umumnya merupakan pemeluk yang “ fanatik” dari salah satu agama monoteis bahkan pejabat atau pimpinan agama.

Sumber : http://obyramadhani.wordpress.com/2009/11/20/agama-dan-masyarakat/